Ilustrasi najis

Najis adalah sesuatu yang kotor yang dapat menghalangi keabsahan shalat selama tidak ada sesuatu yang meringankan (rukhsah).

Najis terdiri dari beberapa macam, berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis najis, baik berbentuk cairan ataupun berupa benda padat, termasuk hukum benda-benda yang terkena najis seperti pakaian dan tempat. 

Minuman yang Memabukkan

Contoh najis yang bersifat cair adalah semua jenis cairan minuman yang memabukkan. Dasarnya Firman Allah ta’ala tentang khamar, yaitu air perasan anggur yang kental dan berbuih, 

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah [5]: 90)

Menurut syariat, yang dimaksud dengan “rijs” adalah najis. Minuman lain yang sejenis dengan khamar adalah Nabidz, yaitu semua jenis minuman yang memabukkan yang terbuat dari bahan selain anggur semisal kurma basah, kurma kering, biji-bijian dari jenis gandum, jagung, dan sebagainya. Dalil yang menetapkan najisnya khamar, termasuk khamar muhtaramah, adalah konsensus (ijmak) ulama. Hukum nabidz bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan khamar dengan alasan sifatnya yang memabukkan.

Gambar segelas bir/khamar. Sumber: istockphoto.com

Ulama mendefinisikan khamr termasuk barang yang tidak bersifat muhtaramah, yaitu sesuatu yang sengaja dibuat untuk menjadi arak. Adapun khamr yang muhtaramah adalah sesuatu yang diperas bukan untuk diolah menjadi khamr atau hanya diolah untuk menjadi cuka. 

Adapun semua zat memabukkan yang tidak bersifat cair tidak dikategorikan sebagai najis. Contohnya ganja, meskipun hukum mengkonsumsinya tentu saja haram.

Contoh lain cairan yang najis adalah air seni (kencing), kotoran (tahi), darah (meskipun sedikit), qaih (yaitu sejenis nanah yang keluar dari jerawat atau bisul) karena sebenarnya qaih adalah sejenis darah yang sudah berubah dan tidak bercampur lagi dengan darah, shadid (yaitu sejenis nanah yang bercampur dengan darah), cairan bisul, dan cairan cacar, meskipun baunya tidak berubah. 

Muntah

Contoh lain dari cairan najis adalah muntah, yaitu cairan yang keluar dari perut, meskipun tidak berubah sifatnya. Alasannya karena muntah adalah sisa makanan yang sudah mengalami perubahan seperti halnya air seni. Adapun jika yang keluar berupa makanan atau bahan lainnya yang belum mencapai lambung, hukumnya tidak najis. 

Air liur

Air liur yang berasal dari dalam perut hukumnya najis, tetapi air liur yang turun dari kepala ke rongga hidung, atau dari pangkal tenggorokan dan dada, hukumnya suci. Cairan liur yang telah berubah sifat dan mengalir dari mulut orang yang sedang tidur adalah najis, jika cairan itu keluar dari perut dengan tanda berbau tak sedap dan berwarna kuning.

Cairan yang keluar selain dari perut, atau masih diragukan apakah cairan tersebut keluar dari perut atau lainnya, maka hukumnya suci. Hal ini juga mencakup semua jenis cairan yang keluar dari rongga mulut. Cairan tersebut hukumnya Suci. Begitu juga cairan empedu, hukumnya suci. Hukum Kesturi juga adalah suci, yaitu cairan yang berasal dari benjolan yang terdapat di dekat pusar kijang yang kemudian dibedah dan diambil cairannya.

Tahi/Kotoran

Al-Rauts (tahi/kotoran) hukumnya najis, termasuk kotoran yang berasal dari ikan dan belalang. Dasarnya adalah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawakan dua butir batu dan sebongkah kotoran yang untuk istinja’ dengan benda benda itu, ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memungut kedua batu dan menyingkirkan kotoran tersebut seraya bersabda “kotoran (tahi) adalah najis). 

Air Seni

Air seni hukumnya najis. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan para sahabat untuk menyiram air seni milik seorang badui yang buang air kecil di masjid. Dikecualikan air seni dan darah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Madzi

Madzi (cairan encer berwarna putih yang keluar tanpa syahwat yang kuat) hukumnya najis. Dasarnya adalah perintah Rasulullah untuk mencuci kemaluan karena keluar madzi, sebagaimana di dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim berkenaan dengan kisah Ali radhiyallahu’anhu. Hukum Wadi (cairan pekat berwarna putih keruh yang keluar sesaat setelah kencing atau setelah melakukan pekerjaan berat), dan hukum batu kemih yang keluar setelah buang air kecil adalah najis.

Sperma manusia dan binatang hukumnya suci menurut pendapat yang Ashah (paling benar dalam mazhab Syafi’i). Sperma binatang hukumnya suci karena juga merupakan bibit hewan yang suci sehingga dapat disamakan dengan sperma manusia. Terkecuali sperma anjing dan babi atau keturunan dari kedua binatang itu, atau binatang yang dilahirkan oleh salah satu diantara kedua binatang najis itu. Menurut pendapat yang Azhar (paling menonjol dalam mazhab syafi’i), dasar kesucian sperma adalah Hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha  bahwa Aisyah radhiyallahu’anha menggaruk sperma dari pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan menggunakan pakaian tersebut. Pendapat ini dapat diterima baik bagi yang berpendapat bahwa yang keluar dari tubuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah najis, maupun bagi yang berpendapat bahwa apa yang keluar dari tubuh nabi adalah suci. Tapi dan ini tidak bisa diterima bagi mereka yang berpendapat bahwa sperma itu najis seperti mazhab Hanafi.

Pendapat yang mengatakan bahwa sperma suci didukung oleh Hadis al Daruquthni dan al Baihaqi dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu yang menjelaskan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang sperma yang menempel pada pakaian beliau menjawab, “ia (sperma) sama dengan ingus dan ludah.” Jika seseorang belum mencuci kemaluannya setelah buang air kecil, spermanya menjadi najis. Begitu juga ketika sperma bercampur dengan madzi seperti yang biasa terjadi.

Air Susu Mamalia yang Tidak Boleh Dimakan Dagingnya

Air susu semua binatang mamalia yang tidak boleh dimakan dagingnya hukumnya najis. Contohnya susu keledai betina, karena ia berubah dalam perut menjadi serupa dengan darah. Adapun susu binatang yang halal dimakan dagingnya, seperti susu kuda maka hukumnya suci. Dasarnya firman Allah Ta’ala:

وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ

Artinya:

“Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.” (QS. Al-Nahl : 66).

Adapun susu manusia hukumnya suci, karena kedudukan manusia yang mulia, tidaklah patut jika susu yang diproduksinya najis.

Sesuatu yang Terpotong dari yang Hidup

Hukum anggota tubuh yang terpisah atau terpotong dari semua binatang yang masih hidup dan Plasenta (selaput pembungkusnya Janin dalam kandungan), hukumnya sama dengan bangkai yaitu najis. Akan tetapi jika anggota tubuh yang terpotong itu suci, maka hukum potongannya yang telah terpisah itu juga tetap suci, contohnya rambut manusia. Namun jika hukum anggota tubuh itu najis maka potongan nya juga najis. Ketentuan ini berdasarkan Hadis:

‏ما قطع من الحي فهو ميت

Artinya:

“Sesuatu yang terpotong dari yang hidup adalah bangkai.” (HR. Al-Hakim).

Sesuatu yang terpisah dari manusia, ikan, atau belalang hukumnya suci. Selain itu hukumnya najis, kecuali rambut, bulu, kulit yang dapat dimakan, hukumnya suci berdasarkan ijma’, meskipun sesuatu itu dipisahkan dari tubuh dengan cara dicabut. Allah Ta’ala berfirman:

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ جُلُوْدِ الْاَنْعَامِ بُيُوْتًا تَسْتَخِفُّوْنَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ اِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ اَصْوَافِهَا وَاَوْبَارِهَا وَاَشْعَارِهَآ اَثَاثًا وَّمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ

Artinya:

“Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu).” (QS. Al-Nahl : 80)

Baik bagian tubuh diambil setelah binatang yang bersangkutan ataupun ketika binatang itu masih dalam keadaan hidup. Jadi, ketentuan ini menjadi pengkhususan dari ketentuan yang disebutkan sebelumnya.

Adapun hukum sesuatu yang terpisah dari hewan yang tidak boleh dimakan daging nya seperti keledai adalah najis. Jika kita ragu apakah bagian yang terpisah itu berasal dari binatang yang suci ataukah dari binatang yang najis, maka ia hukumnya suci, karena hukum asal sesuatu adalah suci.

Contoh lain dari bagian tubuh yang suci yaitu ‘alaqah (gumpalan darah dalam uterus), mudhghah (gumpalan daging), dan cairan vagina (cairan berwarna putih yang biasanya keluar sebab penyakit atau karena adanya keringat). Sedangkan cairan yang keluar dari dalam vagina hukumnya najis.

Asap yang Berasal dari Najis

Asap yang berasal dari najis hukumnya najis. Asap dari najis dapat ditoleransi jika jumlahnya sedikit. Rambut binatang yang najis, yang jumlahnya sedikit dapat ditoleransi, asalkan bukan berasal dari anjing dan babi.

Hukum kotoran ikan dapat ditoleransi, karena sulit dihindari, selagi sifatnya tidak berubah. Tapi jika sifat kotoran tersebut sudah berubah maka hukumnya najis.

Semua jenis najis tidak dapat berubah suci, kecuali tiga macam, yaitu: 

1. Khamar berikut wadahnya ketika sudah berubah menjadi cuka, atau dipindah dari bawah sinar matahari ke tempat yang teduh atau sebaliknya, menurut pendapat yang paling benar (ashah) dalam mazhab Syafi’i, atau dengan membuka tutupnya. Akan tetapi jika proses fermentasi itu dilakukan dengan memasukkan sesuatu seperti bawang ke dalamnya maka hukumnya tidak suci. Karena benda yang dimasukkan ke dalam khamar menjadi najis, dan begitu juga khamar tersebut berubah menjadi cuka, ia berbalik menajisinya.

2. Kulit yang najis karena berasal dari bangkai dapat menjadi suci jika di samak, bagian baik bagian luarnya maupun bagian dalamnya menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i. Menyamak adalah menghilangkan sisa sisa kotoran yang melekat pada kulit. Dikecualikan kulit anjing dan babi, tidak bisa disamak.

3. Binatang yang muncul dari organ yang telah mati hukumnya suci, contohnya bangkai yang mengeluarkan Belatung. Alasannya adalah karena adanya unsur kehidupan.

Demikianlah artikel tentang najis ini. Anda juga dapat membaca artikel lainnya tentang fiqh.