Perjalanan Dzulqarnain: Potret Pemimpin Terbaik

Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu adalah yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (Terjemahan QS. Al-Kahfi: 94).

Pemimpin yang bertanggungjawab.

Di barat, Dzulkarnain bertemu dengan masyarakat yang berilmu, di belahan bumi bagian Timur ia bertemu kaum yang tidak beriman. Sementara di bagian tengah diantara dua lembah bertemu dengan masyarakat yang berpendidikan rendah dan pemalas. Semua urusan baiknya serba ingin dibayar saja. Dzulqarnain tetap mendengar dan memecahkan masalah yang dihadapi mereka.

Pemimpin itu adalah pengayom bagi rakyatnya. Bertanggungjawab terhadap segala hajat rakyatnya. Bukan saling lempar tanggungjawab. Berlepas tangan dan berlindung dibalik alasan, itu bukan urusan saya.

 “Aku memposisikan diriku terhadap harta Allah,” kata Umar. “Sebagaimana posisi pengasuh anak yatim. Jika aku berkecukupan, aku tinggalkan harta itu. Jika aku memerlukan, aku memakannya dengan cara yang baik”.

Harta negara sama posisinya harta anak yatim. Pemimpin menjalankan amanah negara sebagaimana memelihara anak yatim. Jika mindset setiap pemimpin seperti ini, maka seluruh aset kekayaan alam tanah air akan aman untuk kepentingan rakyat. Untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Tidak semena-mena terhadap kebijakan yang merugikan tatanan sendi kehidupan. Lalu menguntungkan pihak lain.

“Kebaikan pemimpin akan berefek pada kebaikan negeri” kata Fudhail Ibnu ‘Iyadh. Pemimpin yang adil akan melahirkan negara yang berkah pula. 

Imam atau pemimpin dalam bahasa Arab berasal dari kata yang berarti pola. Seperti halnya pola untuk membuat baju. Kita akan memotong kain mengikuti polanya.

Bagaimana bisa terwujud pemimpin yang adil jika kebijakan yang dilakukan bukan pola kepemimpinan dirinya. Menumpas korupsi tetapi dia sendiri korupsi. Menyerukan berbuat baik, tapi hukum dibuat tumpul sebelah lalu tajam ke kaum lemah. Menjanjikan banyak harapan, namun mengingkari kenyataan. Rakyat butuh kepastian, tapi sibuk mencari-cari pembenaran.

Pemimpin harus pandai melihat potensi rakyatnya.

Masyarakat diantara dua lembah ini, inginnya membangun dinding melindungi wilayahnya dari Ya’juj dan Ma’juj cukup dengan memberikan upah kepada Dzulqarnain. Tidak perlu bekerja.

Lalu Dzulkarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,” (Terjemahan QS. Al-Kahfi: 95).

Permintaan rakyatnya ini tetap dilayani. Tetapi dengan mengaktifkan mereka untuk tetap membantu bekerja. Dengan melihat potensi yang dimiliki. Potensi yang dapat diberdayakan. Kalau otaknya kurang dalam berfikir, maka manfaatkan kekuatan ototnya.

Orang yang tinggal di gunung biasanya ototnya kuat. Inilah kecerdasan Dzulqarnain memahami kemampuan rakyatnya. “Berilah aku potongan-potongan besi” kata Dzulqarnain

Pemimpin tidak harus menyanggupi setiap permintaan rakyatnya, tapi memberikan solusi terbaik.

Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat Saddan (dinding) antara kami dan mereka?

Permintaan rakyatnya dibuatkan dinding. Tapi Dzulqarnain menyanggupi tawaran lain. 

Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan, agar aku membuatkan rodman (benteng) antara kamu dan mereka,”

Tadi mereka meminta saddan atau dinding. Dzulqarnain menerima proposalnya lalu  menawarkan rodman, semacam benteng dengan dinding berlapis yang lebih kuat. Terbukti materialnya dari besi.

Lihatlah seorang pemimpin yang bijak ketika menerima permintaan rakyatnya. Mintanya dinding, tentu tidak sebanding dengan kekuatan Ya’juj dan Ma’juj. Yang bisa saja diruntuhkan dengan mudah. Maka dibuatkan benteng. Benteng dengan dinding yang lebih kokoh menahan kekuatan musuh.

Kita butuh pemimpin yang memahami persoalan rakyat yang paling fundamental. Apa yang lebih dibutuhkan masyarakat dari pembangunan jiwa dan raga. Kedamaian dalam beribadah dibangun dari dua infrastruktur kehidupan. Suatu kaum akan mudah menjalankan syariat ketika dua hal ini kita wujudkan. Dua hal kemudian menjadi kebutuhan dasar.

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Terjemahan QS. Al-Quraisy: 4-5). Makan menghilangkan lapar dan aman dari ketakutan. Kebutuhan pokok menyangkut kesejahteraan ekonomi. Dan rasa aman berhubungan dengan ketenangan jiwa. Kepastian hukum. 

Kenapa mereka meminta saddan yang bisa saja runtuh dengan mudah. Karena ilmunya memang hanya sampai segitu. Dzulqarnain membuatkan dinding yang lebih kokoh. Yang lebih kuat menahan serangan musuh. Memberikan solusi yang lebih efektif. Solusi yang terbaik. Bukan sebaliknya, mereka minta pagar dari besi lalu hanya dibuatkan pagar bambu.

Kita butuh pemimpin yang bijak memahami kondisi yang dihadapi dan menjawab persoalan ummat dan bangsa. Sehingga kebijakannya juga tepat pada kemaslahatan. Bukan atas dasar kepentingannya, pribadinya, kelompoknya. Hanya mereka yang memahamimu akan memperjuangkanmu.

Demikianlah artikel tentang Dzulqarnain, potret pemimpin terbaik. Anda juga dapat membaca artikel lainnya tentang sejarah islam.

Lanjut ke halaman selanjutnya (tombol ada di bawah).

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening