Perjalanan Dzulqarnain: Potret Pemimpin Terbaik

Menjadi pemimpin beban amanahnya semakin besar. Jika kita memahami kepemimpinan adalah tanggungjawab, maka semua orang akan mendahulukan orang lain. Tidak ingin memikul beban yang lebih berat.

Harus adil dalam mendistribusikan kebutuhan rakyatnya. Tidak berat sebelah dalam penegakan hukum dan keadilan. Sebab yang diminta pertamakali dari pemimpin sifat keadilannya. Memastikan semua telah mendapatkan haknya.

Dzulqarnain adalah potret pemimpin yang terbaik. Mendatangkan banyak berkah dan manfaat pada rakyatnya. Tidak hanya menjangkau daerah akses strategis, melainkan memastikan seluruh wilayah kekuasaanya dalam kondisi iman dan aman. 

Perjalanan ke Timur

Setelah menyelesaikan perjalanan ke barat. Dzulqarnain melanjutkan perjalanan ke wilayah timur. Suatu kaum yang tidak tersentuh peradaban.

“Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari matahari itu,” (Terjemahan QS. Al-Kahfi: 90).

Sebagian menafsirkan masyarakat yang dijumpai Dzulqarnain ini tidak berpakaian, telanjang. Lalu apa yang dilakukan Dzulqarnain?

Melakukan hal yang sama ketika menghadapi kaum di barat. Berdakwah.

“Demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.”

Akses ke wilayah ini sangat sulit dijangkau. Sebagian peneliti mencoba mencari dimana letak sesungguhnya. Jika benar adanya, tempat ini memang tidak semudah menjangkau dengan transportasi modern saat ini. Apalagi teknologi zaman itu. 

Dzulqarnain telah mendatanginya. Tidak ada alasan bagi seorang penguasa kecuali telah menjangkau wilayah tanggungjawabnya. Sekalipun akses yang susah. Kantornya bukan di istana megah. Mengunjungi daerah-daerah yang terisolir. Yang tak tersentuh sama sekali proyek. Jalan-jalan yang berlumpur, pegunungan yang terpencil, kampung yang sepi di tengah hutan. Sehingga tahu betul apa yang seharusnya menjadi kebutuhan mereka. Kepemimpinan adalah amanah yang harus sampai ditunaikan.

Perjalanan di antara dua lembah

“Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.”

Masyarakat diantara dua lembah ini berbeda dengan barat dan timur. Pendidikan yang rendah. Sulit berkomunikasi dan memahami pembicaraan orang lain. Disamping bahasa yang asing. Mereka pun kesulitan menyampaikan maksudnya. 

Dzulqarnain tetap berusaha maksimal memahami apa maksud pembicaraannya. Pemimpin harus bisa berkomunikasi memahami keinginan rakyatnya. Tidak sekedar blusukan, tetapi memahami betul kondisi sebenarnya. Mengerti terhadap segala harapan terkuatnya. Berdasarkan tinjauan di lapangan, bukan angka survey bayaran.

Dalam kehidupan nyata, penguasa seperti ini sangat langka. Tidak seperti kebanyakan penguasa. Menghabiskan kekuasaannya dalam kesenangan disaat rakyatnya menderita kesempitan hidup.

Mereka memilih menghabiskan liburan dengan mendengarkan keluhan rakyat kecil. Di pasar tradisional, sepanjang gang yang terhimpit. Atau tempat-tempat yang tak tersentuh pembangunan. Mereka adalah orang yang teguh mempertahankan martabat jabatan disaat banyak pejabat menjual namanya. 

Komitmen menunaikan janji-janji daripada sekedar membuat harapan kosong. Tidak berani menyentuh uang rakyat demi kepentingan pribadi. Mereka memahami bahwa uang negara sama perlakuannya dengan harta anak yatim.

Kita menyangka kepemimpinan akan mengorbankan banyak hal. Harga diri, akal sehat. Akan tetapi lebih butuh pada pendekatan, sentuhan jiwa dan kasih sayang.

Pemimpin tidak butuh dengan sogokan dari rakyatnya.

Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (QS. Al-Kahfi: 94).

Inilah godaan para penguasa. Ketika rakyat hendak menyogok pemimpinnya. Agar urusan gampang selesai. Bagi Dzulqarnain ini bukan saatnya meraup keuntungan besar-besaran dari kekuasaanya.

“Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik,” kata Dzulkarnain.

Jika itu memang bagian dari tugas kita, tidak selayaknya kita meminta ucapan terima kasih. Allah adalah sebaik-baik pembalas atas segala peluh keringat jasa kita. Jika prinsip ini menjadi pegangan setiap pemimpin, tentu semua hak-hak akan terpenuhi tanpa harus ada kata transaksi harga diri.

Mental penduduk dua lembah ini terbilang malas bekerja. Tidak berilmu. Semua pekerjaan baiknya dengan sogokan saja. Dzulqarnain melihat sumber daya lain dari rakyatnya. Orang pegunungan biasanya kuat fisiknya. Jika bukan dengan otaknya, maka aktifkan ototnya.

“Maka tolonglah aku dengan kekuatan, agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,”

Disinilah kecerdasaan seorang pemimpin memahami potensi warganya. Kelebihan dan kekurangan masing-masing. Melibatkan langsung menghadapi permasalahan mereka. Sebab ini kampung mereka. 

Tidak cukup memberikan ikan. Memberi pancing dan mengajarkan menangkap ikan. Ketika terjadi masalah yang sama, dapat segera diatasi sendiri. Kita butuh pemimpim yang memberikan solusi, bukan terus dimimpikan janji.[] 

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening