Perjalanan Dzulqarnain: Potret Pemimpin Terbaik

Artikel ini akan membahas potret pemimpin terbaik, perjalanan Dzulqarnain yang merupakan seorang raja yang adil dan saleh dan diberikan kehebatan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk menjinakkan kaum perusak bernama Yakjuj dan Makjuj.

Seperti apa perjalanan Dzulqarnain? Baca artikel ini selengkapnya!

Ada satu Surah yang kita disunnahkan membaca setiap pekannya. Di hari raya Jum’at. Apa hikmah dibalik diulang-ulangnya Surah ini?

Surah al-Kahfi memuat empat pokok permasalahan penting yang akan kita hadapi utamanya di akhir zaman. Keempat fitnah itu berkumpul dalam fitnah Dajjal. Sebabnya kita diperintahkan berlindung dari Fitnah terbesar ini.

Salah satunya adalah fitnah kekuasaan dalam kisah Dzulqarnain. Kisah Dzulqarnain memberikan inspirasi, bagaimana seharusnya pemimpin itu menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.  

“Kisah terbaik dalam kepemimpinan Raja-raja” kata Ibnu Taimiyyah.  “Adalah kisah Dzulqarnain” sebutnya dalam Majmu Fatāwā.

Surah al-Kahfi ini turut menjadi inspirasi Rasulullah saat mengalami masa-masa tersulit. Kelak risalah yang dibawanya akan menguasai belahan barat maupun timur umpamanya kekuasaan Dzulqarnain. Kedatangan manusia berbondong-bondong memeluk dien mulia ini. 

Suatu waktu, datanglah kawanan Quraisy  bertanya pada Nabi dengan tiga bekal pertanyaan dari orang Yahudi. Semua pertanyaan dijawab dalam Surah al-Kahfi. Pertanyaan yang ketiga adalah, 

Mereka akan bertanya kepadamu tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya” (QS. Al-Kahfi: 83).

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di bumi,” (Terjemahan QS. Al-Kahfi: 84).

Jika kita zoom kisah Dzulqarnain, titik fokusnya adalah kekuasaannya. Cara kepemimpinannya. Bagaimana seharusnya kita memanfaatkan kekuasaan dalam mendekatkan masyarakat pada tauhid. 

Beriman, bertaqwa serta berakhlak mulia seharusnya menjadi standar kita menilai negara itu maju. Kampus itu terbaik, sekolah itu unggulan dan peradaban itu mulia.

“… dan Kami telah memberikan kepadanya jalan segala sesuatu” (QS. Al-Kahfi: 84).

Elemen kedua adalah sebab-sebabnya. Ada banyak sebab-sebab yang melengkapi utuhnya sebuah kekuasaan. Dengan segala perangkat kekuasaan sehingga tetap utuh, kuat dan berjaya. Jika segala perangkat kelengkapan telah dimiliki, maka secara otomatis layak diberi kekuasan di muka bumi.

Butuh perhitungan dalam mengukur potensi. Sebaliknya hitung-hitungan elektabilitas bukan pula menjadi rujukan utama. 

Ada tiga kisah perjalanan Dzulqarnain melengkapi pemahaman kita yang utuh menghadapi fitnah kekuasaan. 

Pemimpin harus mengelilingi daerah kekuasaannya.

Maka diapun menempuh suatu jalan” (Terjemahan QS. Al-Kahfi: 85).

Dan begitulah seharusnya pemimpin, intens melakukan perjalanan. Menyentuh grass of root, melihat langsung kondisi rakyatnya. Tidak hanya tinggal di istana megah menunggu laporan mewah. Perjalanan Dzulqarnain begitu banyak. Namun Allah hanya mengabadikan tiga perjalanannya menjadi rujukan penting setiap pemimpin.

Sebagaimana Umar bin Khattab membuat banyak kebijakan setelah melakukan perjalanan. Sangat masyhur kisah Umar bin Khattab berjalan di pagi maupun malam hari. Tidak puas dengan hanya sekedar menerima laporan tanpa menyaksikan langsung.

Namun perlu diingat bahwa tujuan perjalanannya bukan untuk dikenal atau sekedar pencitraan.

Adil dalam memberi keputusan 

Perjalan ke Barat Dzulqarnain bertemu dengan masyarakat diantaranya ada yang kafir. Lalu berhadapan dengan dua pilihan. 

“Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka?”

Lalu bagaimana kebijakan Dzulqarnain?

Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya” (Terjemahan QS. Al-Kahfi: 87).

Kekafiran erat dengan kezhaliman. Ketika yang menguasai adalah kekafiran maka cenderung terjadi kezaliman. Dan kezaliman yang paling besar adalah kekufuran. 

“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya yang mudah dari perintah-perintah kami” (Terjemahan QS. Al-Kahfi: 88).

Pemimpin yang beriman maka tolok ukur kebijakannya adalah keimanan pula. Yang beriman akan dipermudah urusannya. Adapun orang kafir akan diberi hukuman dan akan mendapatkan balasan yang lebih berat lagi dari Allah.

Di balik kekuasaan wilayah timur dan barat tidak membuatnya diktator. Tetap bersikap adil. Keberhasilan seorang pemimpin bukan soal pembangunan infrastruktur. Kepemimpinan yang sesungguhnya adalah pembangunan jiwa raga yang taqwa. Menfasilitasi rakyatnya lebih beriman dan dekat kepada RabbNya. Menjadi jalan inspirasi terpenuhinya kebutuhan ruhiyyah masyarakatnya. Mesjid yang ramai akan program dakwah, pendidikan yang merata, kesejahteraan sosial di semua sisi.

Lanjut ke halaman selanjutnya (tombol ada di bawah).

Oleh: Muhammad Scilta Riska, SH.

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening