Artikel ini membahas tadabbur surah al-Fatihah yaitu tentang rahasia nama Allah “Rabb” ditempatkan di antara pujian dan rahmat.
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Fatihah: 2-3)
Allah mewajibkan surat ini (al-Fatihah) dibaca berulang-ulang pada setiap raka’at shalat, yang mana di dalamnya terkandung pesan cinta yang amat besar ini dariNya. Salah satu hikmahnya adalah agar setiap kali bisikan-bisikan setan datang, lalu membuat kita benci pada satu jenis aturan dan syariatNya, ataupun ragu akan kebesaran belas kasihNya dalam setiap sentuhan hikmah syariatNya, bisa membuat kita tersadarkan lalu membuka mata dan hati setiap kali lisan membacanya. Bahkan, ia akan menguatkan bahwa ini adalah aturan dan syariat yang amat sempurna, yang seharusnya kita puji dengan pengagungan dan rasa cinta, karena ia dibangun atas kemaha luasan kasih sayangNya.
Oleh karenanya, kita yang berkeyakinan bahwa Allah sebagai Rabbul ‘Aalamiin, yaitu Tuhan yang Maha Pengatur dengan keluasan kasih sayangNya kepada seluruh alam, tidak sepantasnya mengatakan hal-hal yang menunjukkan hilangnya pengagungan kita pada syariat-Nya.
Misalnya, ketika kita mempertanyakan jenggot, cadar, celana cingkrang dan sunnah lainnnya dengan kebencian dan kurangnya penerimaan terhadapnya. Sebab, jika demikian halnya, hakikatnya kita belum mengenal Rabb kita yang Maha Pengatur dengan ke-Maha-luasan Kasih SayangNya itu dengan sebenar-benarnya. Kita terjebak dalam was-was setan yang bersembunyi dan menyesatkan.
Was-was setan yang bersembunyi, kita tidak menyadarinya. Lihatlah isyarat ini pada surat an-Nas. Allah Azza wajalla mengajari manusia untuk berlindung kepadaNya sebagai ar-Rabb yang Maha baik aturanNya, dari bahaya was-was setan yang bersembunyi untuk keragu-raguan terhadap aturan dan syariatNya. Allah Azza wajalla berfirman:
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ١ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ٢ إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ ٣ مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ٤ ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ٦
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia”. (QS. An-Nas: 1-6)
Allah memulai kitabNya pada surat al-Fatihah dengan menyebut nama dan sifatNya secara berturut-turut bahwa Ia adalah Ilah (Allah), Rabb dan Malik, lalu menutup kitabNya di akhir al-Qur’an pada surat an-Nas dengan tiga nama yang sama yaitu Rabb, Malik dan, Ilah. Dari sini, mungkin kita akan berkata indah –subhanallah-, dan memang aturan-aturan Allah sangat indah, jika seserang mau membuka mata hatinya.
Pahamilah, di awal kitabNya Allah menyebut dirinya sebagai Allah, Rabb dan Malik untuk memperkenalkan dirinya bahwa Ia adalah Ilah yang berhak disembah, sebagai Sang Maha Pengatur yang luas akan kasih sayangNya dan sebagai Raja yang menguasai seluruh alam baik dunia maupun akhirat.
Lalu, Pada surat an-Nas, Allah kembali menyebut tiga nama ini, tidak sekedar untuk memperkenalkan diriNya, tapi juga agar manusia bisa berlindung padaNya sebagai Sang Pengatur manusia dari was-was setan yang bersembunyi.
Salah satu perbedaan dan menjadi hikmahnya adalah Allah menyebutkan namaNya sebagai Rabb yang bermakna Sang Maha Pengatur diantara kata pujian (alhamd) dan namaNya ar-Rahman dan ar-Rahim, yang menunjukkan sifat rahmatNya atau kasih sayangNya yang amat luas. Hal ini tidak lain agar seorang manusia semakin menguatkan keyakinannya bahwa Tuhannya adalah Sang Maha Pengatur dengan keagungan cinta dan kasih sayang yang luas.
Oleh karenanya, nama yang pertama kali disebut pada surat an-Nas adalah ar-Rabb, untuk meyakinkan makhlukNya dan agar mereka tidak ragu memohon perlindungan kepadaNya, sebab Dialah Sang Maha Pengatur. Karena kejahatan yang selalu dihembuskan oleh setan adalah was-was untuk membuat keragu-raguan hingga menolak aturanNya secara halus atau secara terang-terangan.
Inilah maksud firman Allah Azza wajalla:
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang takut”. (QS. Al-Baqarah: 45)
Allah memerintahkan manusia untuk memohon pertolongan kepadaNya dari setiap hal yang dianggap buruk dan menyakitkan dengan kesabaran dan shalat. Salah satu hikmahnya adalah karena sabar dapat menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak benar bahkan mungkin lebih buruk, sedangkan shalat dapat membuat hati menjadi tenang. Sebab dengannya seseorang dapat bermunajat dengan Rabbnya dan dapat menghayati pesan-pesan Allah dalam surah al-Fatihah ini.
Ketika ia shalat dan merenungi bacaannya dengan baik, lalu membaca ayat “Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin, Ar-rahmaanirrahiim” ia akan tersadarkan bahwa masalah yang sedang ia hadapi adalah bagian dari aturanNya yang sangat baik, lalu Allahpun menjawab, “HambaKu telah memujiku, hambaKu telah menyanjungku dan hambaKu telah memuliakanKu”.
Jika sudah demkikan, lalu siapakah yang akan merubah segala keadaan kalau bukan Sang Rabb itu? Mungkinkah Sang Pencinta akan membiarkan makhluk yang dicintaiNya berada dalam keburukan?
Sungguh, jika seorang mukmin benar-benar telah meyakini hal ini, maka tenanglah jiwanya. Sebab ia mengetahui bahwa yang membuat ketetapan, aturan dan syariat adalah Tuhan yang Maha Pengatur yang Maha luas kasih sayangNya.
Wallabiibu bil isyarati yafhamu!
Baca juga: Keagungan Sifat dan Nama Allah (Tadabbur Surah Al-Fatihah)
Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi