Manusia yang telah berproses ke arah lebih baik pada akhirnya akan menemukan bahwa memberi lebih membahagiakan daripada menerima.

Dalam sebuah riset di Amerika Serikat beberapa tahun lalu, sejumlah peneliti mengumpulkan sejumlah orang.

Mereka diberi 2 pilihan, membelanjakannya untuk diri sendiri atau memberikannya ke orang lain.

Setelah diteliti, grup yang memilih untuk memberikan ke orang lain merasa lebih bahagia.

Syaraf kesenangan di otak menyala, seolah-olah kita menjadi pihak penerima, bukan pemberi.

Hormon endorphin (zat kimia yang berkorelasi dengan rasa senang dan imunitas) dalam tubuh terpacu.

Tubuh melepaskan oksitosin, biasa dikenal sebagai hormon cinta karena sering muncul saat kita berhubungan intim dan efektif meredakan stres.

Kadar oksitosin yang dilepaskan tubuh akan membuat kita makin berempati kepada orang lain dan ini menular (ke pihak penerima). Setidaknya hingga 2 jam ke depan.

Itulah kenapa, orang yang menerima kebaikan biasanya ingin membalas kebaikan yang diterimanya atau melakukan kebaikan juga ke orang lain.

Berdasarkan riset, 1 pemberian/kebaikan akan menginspirasi banyak kebaikan lainnya, efek domino.

Orang yang rutin menolong teman/tetangganya memiliki risiko kematian yang lebih rendah dalam periode 5 tahun daripada yang tidak.

Orang yang rutin berbagi mempunyai daya tahan tubuh lebih bagus dalam menghadapi penyakit kritis, termasuk HIV dan serangan jantung.

Sekitar 76% orang yang aktif dalam kegiatan sosial mempunyai kesehatan yang lebih bagus dibanding yang tidak.

Sebaliknya bagi perilaku pelit.

Perilaku pelit akan meningkatkan hormon pemicu stres di dalam tubuh.[]

 

Sumber: Majalah Sedekah Plus Edisi 34

Tinggalkan Balasan