Sejarah Rempah-Rempah, Yang Dicari Penjelajah Eropa di Dunia Timur 

Sejarah mencatat bahwa tahun 1492 adalah tahun Christopher Columbus memulai pelayaran menuju Dunia Baru. Tahun yang sama ketika kerajaan Kastilla merebut kota Granada -kota Islam terakhir di Andalusia- dari tangan Dinasti Ahmar.

Dengan tiga kapal: Nina, Pinta, dan Santa Maria, Columbus (beserta 304 awak) bergerak menuju pulau impian yang ia cari. Pulau yang tidak hanya diimpikan oleh Columbus, tapi juga oleh para penjelajah Eropa berikut raja-raja mereka. Pulau impian itu adalah India. Akan tetapi keterbatasan ilmu dan juga peta yang dimiliki membuat Columbus hanya memperkirakan letak pulau yang dimaksud. Jika biasanya orang-orang Eropa berlayar melalui jalur umum, melalui rute bagian timur melewati Asia dan Afrika dengan risiko melewati negeri-negeri Islam yang menjadi rival utama mereka sejak lama, Columbus nekat menempuh jalur yang sangat tidak biasa.

Dengan meyakini teori bumi bulat, Columbus berani menempuh jalur belahan bumi bagian barat. Menurut anggapannya jika bumi bulat, maka lewat barat pun pasti mereka akan sampai ke India. Di luar perkiraan Columbus, ia sampai terlampau lebih cepat dari yang ia perkirakan sebelumnya. Ia menyangka telah sampai di India sehingga ia menyebut penduduk setempat dengan sebutan Indian. Faktanya negeri yang ia jumpai bukanlah India melainkan Karibia, benua Amerika hari ini.

Akan tetapi, tahukah pembaca apa yang melatarbelakangi Columbus (juga pelaut Eropa lainnya) rela berkorban nyawa menghadapi ganasnya ombak, badai, wabah penyakit, dan kelaparan menuju dunia Timur? Barangkali bagi manusia hari ini, apa yang mereka cari adalah sebuah lelucon. Tapi demikianlah faktanya, yang mereka cari “hanyalah” REMPAH-REMPAH.

Para guru di sekolah-sekolah Eropa biasa menceritakan kepada murid-murid mereka bahwa di masa lalu makanan mereka kurang enak, hambar, dan daging yang mereka punya juga lebih cepat membusuk. Untuk membuat makanan mereka menjadi lezat dan daging dapat bertahan lebih lama, mereka butuh rempah-rempah. Karena itulah penjelajahan dimulai. Sesimpel itu!

Persoalannya, rempah-rempah yang mereka cari dan idamkan tidak ada di negeri mereka. Ia hanya terdapat dan tumbuh di negeri yang sangat jauh jaraknya. Mereka sendiri tidak punya gambaran pasti di mana letak negeri rempah-rempah itu. Yang mereka tahu negeri itu bernama India (Hindia). Faktanya, lada, cengkeh, pala dan bunga pala, serta kayu manis, tumbuh di Kepulauan Nusantara (Indonesia). Lebih khusus cengkeh hanya terdapat di Maluku.

Tidak memiliki gambaran pasti bagaimana bentuk pohon kayu manis, lada, cengkeh, pala, Columbus hanya menebak-nebak pohon-pohon yang tumbuh di Dunia Baru. Berbulan-bulan ia mencari pohon rempah-rempah di Dunia Baru tapi tak satupun dari tanaman pelezat masakan itu tumbuh di sana. Bahkan sampai mereka masuk ke pelosok hutan.

Namun, meski tidak beruntung dalam hal pencarian rempah-rempah, Columbus mendapatkan benda berharga yang kelak akan jauh lebih berharga dari rempah-rempah yang mereka cari: EMAS!

Nilai barang semakin mahal sesuai kelangkaan barang tersebut serta kesulitan untuk mendapatkannya. Dahulu rempah-rempah hanya terdapat di dunia Timur. Di setiap tahap selama perjalan dari Timur ke Barat (Eropa), makelar rempah yang berbeda akan terus meningkatkan harga sehingga setelah tiba di Eropa harganya jadi meroket hingga seribu persen. Dengan biaya semacam itu, timbul aura kemewahan, bahaya, jarak dan profit. Dilihat dari kacamata orang Eropa yang kurang berwawasan dan terlalu imajinatif, tempat-tempat yang ditumbuhi rempah-rempah penuh dengan pohon penghasil uang.

Vasco Da Gama

Columbus gagal menemukan India sesungguhnya, tapi ia mengangkut bongkahan emas dari Dunia Baru dibawanya ke Spanyol. Sementara yang benar-benar berhasil mendarat ke Dunia Timur tempat tumbuhnya rempah-rempah adalah pelaut dari Kerajaan Portugis, Vasco Da Gama. Memulai pelayaran 1597 (5 tahun setelah Columbus berlayar ke Dunia Baru), Da Gama meneruskan keberhasilan Diaz yang menemukan Tanjung Harapan di ujung Afrika Selatan. Ia memberanikan diri melintasi ganasnya Samudera Hindia yang belum terpetakan oleh mereka. Beruntung, ia mendapatkan seorang Arab-Muslim di pelabuhan Malindi (Kenya) yang mengenal jalur di Samudera Hindia. Dan setelah berlayar hampir sebulan dari pesisir Afrika, sampailah Da Gama di pelabuhan Malabar, India. 

Malabar dahulu penghasil jahe terbesar. Rempah-rempah dari Timur (Nusantara) singgah di sini sebelum dilempar ke pasar Timur Tengah dan Eropa. Ketika itu Kerajaan Islam Moghul masih menguasai sebagian India, tapi Hindu adalah mayoritas. Sebagaimana Columbus salah menebak tumbuhan di Dunia Baru, Da Gama juga salah sangka ketika mengira patung Devaki merawat Krisna sebagai konsep ibu-anak dalam agama Katolik (Bunda Maria-Yesus). Ia pikir penduduk setempat juga penganut Katolik seperti dirinya.

Ingin menguasai perdagangan dunia untuk mengisi kas Kerajaan Katolik Portugis, mulailah orang-orang Portugis menjajah India. Dari sini mereka berlayar dan sampai di Malaka pada 1511. Selat Malaka adalah tempat yang ramai dilayari kapal-kapal dagang yang menghubungkan Cina dan India. Penjajahan Portugis terhadap Malaka menyebabkan perubahan jalur perdagangan Internasional. Kelak, dari Malaka mereka terus berlayar hingga sampai di pulau rempah sesungguhnya: Maluku. Sebuah kesyukuran besar ketika penjajah itu tiba di Maluku, penduduknya telah memeluk Islam dan telah berdiri dua kesultanan: Ternate dan Tidore.

Fernando Magellan

Penjelajah Portugis lainnya yang mencari Kepulauan Rempah adalah Fernando Magellan. Lebih gila dari dua penjelajah sebelumnya, Magellan melintasi Samudera Pasifik yang menyebabkan hanya tiga dari lima kapal yang selamat. Magellan sendiri terbunuh ketika singgah di Filipina oleh penduduk setempat. Sebelumnya, ia bersama 270 awak terombang-ambing di lautan hampir 4 bulan tanpa melihat daratan. 

Ketika persediaan makanan sudah habis, mereka memakan serbuk gergaji dan menggigit kayu kapal sehingga gigi mereka hitam akibat bakteri. Waktu menemukan daratan pada Maret 1521, yang selamat telah melewatkan 90 hari tanpa mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih. Seperti itulah perjuangan penjajah Spanyol dan Portugis untuk menemukan komoditas utama di Abad Tengah: REMPAH-REMPAH.

Baca juga: Peran Ulama Jawi di Mekkah Abad 19

Bacaan: 

Jack Turner, Spice the History of Temptation (Terj.”Sejarah Rempah”)

Marvin Perry, Sejarah Peradaban Barat

Hamka, Dari Perbendaharaan Lama Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening