Sifat Shalat Malam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Mayoritas ulama mengatakan bahwa hukum shalat malam adalah sunnah mu’akkadah (yang sangat) ditekankan berdasarkan al-Qur-an, as-Sunnah dan ijma’ kaum muslimin.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepadanya dan kepada putri beliau, Fathimah, di malam hari, lalu beliau berkata, “Mengapa kalian tidak shalat?” Aku (‘Ali) berkata, “Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Allah berkehendak membangunkan kami (untuk shalat) tentu kami akan bangun.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu pergi ketika kami mengatakan begitu dan beliau sama sekali tidak membalas kami hingga kemudian aku mendengarnya mengatakan sambil memukul pahanya.

‎وَكَانَ اْلإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلاً

“Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” [Al-Kahfi: 54].

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma menuturkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat pada suatu malam di masjid lalu orang-orang bermakmum dengannya. Kemudian beliau shalat lagi pada malam berikutnya dan orang-orang yang shalat bersamanya bertambah banyak. Kemudian pada malam ketiga atau keempat orang-orang telah berkumpul, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Ketika di pagi hari beliau berkata, “Aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan dan aku tidak keluar menemui kalian melainkan karena aku takut shalat ini akan diwajibkan atas kalian.” Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan.

Berdasarkan kedua hadits ini dan hadits-hadits lainnya al-Bukhari membuat sebuah bab dengan judul “Tahriidhin Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘ala Qayaamil Laili min Ghairi Iijaab” (Dorongan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan shalat malam tanpa mewajibkannya).

Ibnu Hajar berkata, “Ibnu al-Munir mengatakan, judul bab ini mengandung dua hal; dorongan (untuk melakukan shalat malam) dan tidak mewajibkannya.”

Tidak ada tata cara khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang cara melakukan shalat malam, tetapi tata cara yang ada adalah beragam, sehingga seorang muslim boleh melakukan cara yang mana saja.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam bukunya Zaadul Ma’aad membuat pasal dengan judul: “Pasal tentang tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat malam” Di sini ia menyebutkan tata cara yang banyak tentang shalat malam yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara lain adalah:

Shalat Dua Raka’at dengan Memperlama Berdiri, Ruku’ dan Sujud

Cara yang dikemukakan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun pada malam hari lalu melakukan shalat dua raka’at dengan memperlama berdiri, ruku’ dan sujud. Kemudian beliau pergi lalu tidur hingga meniup-niup. Kemudian beliau melakukan itu sebanyak tiga kali dengan enam raka’at. Pada tiap kalinya beliau bersiwak dan berwudhu’ dan beliau membaca,

‎إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتٍ لأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
(hingga akhir surat). Kemudian beliau melakukan shalat Witir tiga raka’at, lalu muadzin adzan dan beliau keluar untuk melakukan shalat Shubuh… (dan seterusnya hingga akhir hadits). HR. Muslim.

Memulai Shalatnya dengan Mengerjakan Dua Raka’at yang Pendek

Cara yang disampaikan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalatnya dengan mengerjakan dua raka’at yang pendek, lalu beliau menyempurnakan rutinitasnya melakukan shalat sebanyak sebelas raka’at. Pada tiap dua raka’at beliau salam dan melakukan witir satu raka’at.

Tiga Belas Raka’at Seperti Cara yang Kedua

Shalat malam tiga belas raka’at di mana tiap dua rakaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salam lalu witir satu raka’at.

Delapan Raka’at Lalu Witir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam sebanyak delapan raka’at dengan salam pada tiap-tiap dua raka’at, lalu shalat Witir sebanyak lima raka’at sekaligus, tanpa duduk kecuali pada raka’at akhir.

Sembilan Raka’at

Kelima: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sebanyak sembilan raka’at dengan melakukannya secara bersambung pada delapan raka’at tanpa duduk kecuali pada raka’at yang kedelapan, di mana di akhir raka’at ini beliau duduk untuk berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdo’a kepada-Nya, lalu beliau bangun tanpa salam dan meneruskan raka’at yang kesembilan, lalu setelah itu duduk, membaca tasyahud dan salam. Setelah salam beliau shalat lagi dua raka’at dengan duduk.

Sembilan Raka’at dan Duduk di Raka’at Ke-Enam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat tujuh raka’at seperti cara melakukan sembilan raka’at sebelumnya, (yaitu enam raka’at dilakukan secara bersambung tanpa duduk kecuali pada raka’at akhir, di mana beliau duduk untuk berdzikir, memuji Allah dan berdo’a kepada-Nya dan setelah itu bangun tanpa salam untuk melakukan raka’at yang ketujuh dan setelah itu baru beliau salam), lalu setelah salam beliau shalat dua raka’at dengan duduk.

Shalat Dua Raka’at-Dua Raka’at Lalu Witir Tiga Raka’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at-dua raka’at lalu beliau shalat Witir tiga raka’at tanpa dipisahkan di antara tiga raka’at itu dengan salam (salam setelah tiga raka’at). Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Witir tiga raka’at tanpa dipisah-kan di antara raka’at-raka’at itu.

Muhammad bin Nashr al-Marwazi rahimahullah berkata: “Cara yang kami pilih bagi orang yang melakukan shalat malam adalah, melakukannya dua raka’at-dua raka’at, dengan salam pada tiap-tiap dua raka’at itu, dan terakhir ditutup dengan satu raka’at, berdasarkan hadits-hadits ini.” Perkataannya, “Ini pendapat kami” merupakan pilihan dan bukan sebuah kewajiban. Sebab telah diri-wayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat lima raka’at tanpa salam kecuali di akhirnya. Dengan demikian, maka sabda Nabi yang berbunyi, “Shalat itu dilakukan dua raka’at-dua raka’at,” adalah sebuah pilihan. Sedangkan bagi yang menginginkan melakukannya tiga raka’at, atau lima raka’at, atau tujuh raka’at, atau sembilan raka’at tanpa salam kecuali di akhirnya, maka hal itu boleh, tetapi yang baik adalah, salam pada tiap dua raka’at dan witir satu raka’at.

Berdiri Dengan Lama

Di antara tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa beliau memperlama berdiri dalam shalat.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau memperlama berdirinya hingga aku ingin berbuat buruk.” Ia ditanya, “Apa yang kamu akan lakukan?” Ia mengatakan, “Aku ingin saja duduk dan meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih memperlama berdiri dalam melakukan shalat malam, dan Ibnu Mas’ud adalah seorang yang kuat yang selalu mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak ingin duduk, kecuali setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lama sekali yang tidak biasanya beliau dilakukan.”

Berdiri Dan Duduk Dalam Shalat

Ibnul Qayyim mengemukakan, bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tiga cara:

1. Shalat dengan berdiri dan ini yang paling sering beliau lakukan.

2. Shalat dalam keadaan duduk dan ruku’ dalam keadaan duduk pula.

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat dalam keadaan duduk dan bila bacaannya tinggal sedikit beliau bangun lalu ruku’ dalam keadaan berdiri.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Ketiga cara itu bersumber secara shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[]

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening